Upacara Peringatan Bulan K3 Nasional di Samarinda

Upacara Peringatan Bulan K3 Nasional di Samarinda

Budayakan & Terapkan Safety Is My Life

Peringatan   hari   Keselamatan   dan   Kesehatan Kerja (K3) yang diselenggarakan rutin pada tanggal 12 Bulan Januari Tahun 2016 merupakan lima tahun kedua bagi bangsa Indonesia untuk  berjuang,  berperan  aktif  dan  bekerja  secara kolektif dan terus menerus dalam mewujudkan “Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya K3 Tahun 2020”   sebagai   tindak   lanjut   dari   Visi   K3 “Indonesia berbudaya K3 Tahun 2015”

Tahun 2016 ini pula UU No. 1 Tahun 1970 genap berusia 46 Tahun, suatu usia yang cukup mapan dalam menapak penerapan pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1970 di Indonesia, namun Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1970 masih belum diterapkan secara maksimal untuk itu penerapan sistem K3 secara langsung juga akan mendorong peningkatan produktifitas kerja dengan peningkatan mutu hasil produksi maupun jasa layanan serta dapat menekan resiko bahaya akibat kesalahan manusia (human eror).

Penegasan ini disampaikan Asisten Kesejahteraan Rakyat Setprov Kaltim H Bere Ali saat membacakan sambutan mewakili Gubernur Kaltim pada upacara Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) Nasional 2016 di Samarinda. “Pelaksanaan Bulan K3 tahun 2016, yang mengambil tema “Tingkatkan Budaya K3 untuk mendorong produktivitas & Daya Saing di Pasar Internasional” harus dapat diterapkan secara maximal agar penurunan angka kecelakaan kerja dapat terwujud tiap tahunnya” ucapnya.

Sesuai data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat bahwa kasus kecelakaan kerja peserta program Jaminan Kecelakaan Kerja tahun ini menurun. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kasus di tahun sebelumnya yang mencapai 53.319 kasus, Sementara tahun 2015 berjumlah 50.089 kasus. Trend penurunan kasus kecelakaan kerja dapat terjadi karena peran serta semua pihak yang turut aktif dalam mengadakan safety training untuk para pekerja, khususnya untuk pekerja dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Sedangkan data dari International Labour Organization (ILO) juga turut mencatat, setiap hari terjadi sekitar 6.000 kecelakaan kerja fatal di dunia.Di Indonesia sendiri, terdapat kasus kecelakaan yang setiap harinya dialami para buruh dari setiap 100 ribu tenaga kerja dan 30% di antaranya terjadi di sektor konstruksi.

Mendorong penerapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang merupakan aspek yang sangat penting bagi perusahaan, terutama bagi perusahaan yang berbasis manufaktur. Aspek K3 dalam perusahaan secara langsung dapat berpengaruh terhadap kinerja serta produktivitas perusahaan itu sendiri. Penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di dalam perusahaan tentu menjadi tanggung jawab seluruh elemen di perusahaan yang harus diatur dan dilakukan secara benar serta memiliki komitmen tinggi terhadap K3 itu sendiri.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.PER.05/MEN/1996 pada bab III pasal 3 ayat 1 menyebutkan bahwa “Setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3”. Penerapan sistem K3 yang baik menjamin kegiatan usaha akan berjalan aman, sehat dan lancar. Penerapan sistem K3 pun akan membuat proses operasional perusahaan lebih efektif dan efisien serta tepat waktu.

Penyerahan Penghargaan & Seminar Sehari K3

Selain pelaksanaan upacara peringatan K3, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur melalui bidang pengawasan tenaga kerja, juga menyerahkan penghargaan kepada Para pembina K3 (Bupati/Walikota) sebanyak 5 Kab/Kota, piagam penghargaan nihil kecelakaan Kerja 121 perusahaan dan penghargaan kepada perusahaan yang berhasil melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja sebanyak 14 perusahaan. Pemberian penghargaan ini selayaknya jadi tolak ukur bagi perusahaan atau kabupaten/kota untuk lebih meningkatkan lagi pengawasan ketenagakerjaan karena penerapan K3 harus didukung oleh semua pihak dan upacara K3 ini ditutup dengan demo penanganan kecelakaan kerja oleh Tim Rescue dari PT.Badak LNG.

Pada waktu yang sama diselenggarakan seminar sehari tentang K3 yang bertempat di aula Disnakertrans Provinsi Kaltim, yang menghadirkan pemateri dari Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Kemenaker RI, Kadivre III BPJS Ketenagakerjaan Kepala Disnakertrans Prov Kaltim dan sebagai peserta dari perwakilan perusahaan. Saat menjadi pemateri, Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenaqakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Muji Handoyo mengatakan, tujuan diselenggarakannya bulan K3 nasional tahun 2016 meningkatkan kesadaran dan ketaatan pemenuhan, norma K3, meningkatkan partisipasi semua pihak dalam mencapai pelaksanaan budaya K3 secara optimal di setiap kegiatan usaha dan meningkatkan penerapan K3 menuju masyarakat mandiri berbudaya K3. Menurut Muji saat ini data kecelakaan kerja masih terus disempurnakan, tetap berkiblat dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Kalau data BPJS Ketenagakerjaan ada kecendrungan trend menurun di angka kecelakaan kerja, namun tetap jumlah 8 orang/hari meninggal dunia karena kecelakaan kerja masih jadi momok menakutkan di Indonesia. “Penerapan manajemen SMK3 itu kuncinya, jadikan safety is my life sebagai pedoman dalam bekerja” tutupnya.

Terpisah Menaker, M. Hanif Dhakiri  menilai, momentum peringatan Hari K3 ini sangat tepat dan strategis untuk mendorong semua pihak berpartisipasi aktif membudayakan K3 dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).”Kami berharap masyarakat industri di Indonesia memiliki kemandirian dalam berbudaya K3, yang merupakan bagian integral pembangunan nasional.”

Menurut Hanif, dalam upaya peningkatan pelaksanaan K3 secara nasional, pihaknya mengaku telah banyak keberhasilan yang dicapai. Diantaranya adalah makin meningkatnya jumlah dan kualitas peraturan perundang-undangan serta standar di bidang K3 sehingga diharapkan pedoman tentang K3 bisa dengan mudah diimplementasikan.

Kemudian meningkatnya jumlah pengawas bidang K3 yang tersebar di wilayah Republik Indonesia; meningkatnya peran serta masyarakat dalam upaya pembinaan K3 yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah lembaga K3 dan pemeduli K3. Keberhasilan lainnya adalah meningkatnya kesadaran tenaga kerja dan masyarakat dalam K3 melalui peningkatan jumlah personel yang memiliki kompetensi K3, dan meningkatnya perusahaan yang mendapatkan penghargaan K3 serta meningkatnya asosiasi-asosiasi profesi K3 dan perguruan tinggi yang memiliki program K3. Dalam upaya membudayakan K3, Hanif mengajak semua kementerian, pemprov, pemkab dan pemkot, para cendikiawan, perguruan tinggi, organisasi profesi, asosiasi, pimpinan perusahaan, pekerja dan masyarakat melakukan upaya konkret terhadap pelaksanaan K3 di lingkungannya masing-masing. “Semua pihak harus turun tangan untuk bekerja sama agar budaya K3 benar-benar terwujud di setiap tempat kerja dan masyarakat umum di seluruh Tanah Air”, ajak Hanif. TIM/Berbagai Sumber