UPTD BLKI Bontang, Unggulkan Pelatihan Berbasis Komptensi

UPTD BLKI Bontang, Unggulkan Pelatihan Berbasis Komptensi

Permasalahan ketenagakerjaan merupakan masalah  yang sifatnya fungsional, spesifik dan sektoral, dengan demikian diartikan bahwa masalah ketenagakerjaan bukan masalah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi semata tetapi adalah merupakan permasalahan bagi kita semua baik selaku Pemerintah, pengusaha, pekerja dan masyarakat yang harus ditangani secara bersama-sama secara berjenjang dan lintas sektoral/bidang.
Menurut data BPS yang dirilis pada bulan Nopember 2015 bahwa angkatan kerja di Kalimantan Timur pada bulan Agustus  2015 1.539.491 orang, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 1.423.957 orang, jumlah pengangguran sebanyak 115.534 orang (7.50 %). Hal ini mengalami peningkatan dimana pada bulan Februari 2015 angka pengangguran sebesar 118.000 orang (7.17 %), menurut kuantitas mengalami penurunan tetapi berdasarkan presentasi mengalami kenaikan. 
Merujuk dari data inilah peran Pemerintah Provinsi Kaltim,khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi harus lebih pro aktif. Meningkatkan berbagai macam pelatihan berbasis kompetensi,masyarakat dan teknologi yang menuju kemandirian. 
UPTD Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Bontang, sebagai salah satu solusi wadah pelatihan bagi tenaga kerja yang memiliki skill maupun non skill kini terus berbenah. Pada pembukaan pelatihan pelatihan kerja berbasis kompetensi kejuruan teknik las industri, teknisi komputer dan tata kecantikan beberapa waktu lalu, Kepala UPTD BLKI Bontang H.Sutari menegaskan BLK pemerintah maupun Lembaga Pelatihan Kerja (LKS) swasta sebagai salah satu instrumen pengembangan sumber daya manusia yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan etos kerja produktif belum dapat melaksanakan fungsi secara maksimal dalam memberikan kontribusinya secara optimal guna menghasilkan tenaga kerja kompeten, sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dalam rangka mengatasi pengangguran.
Saat membuka pelatihan ini pun, Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Provinsi Kaltim H.Fathul Halim mengingatkan, agar seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan dengan optimal,mengikutinya secara serius hingga pelatihan selesai.” Bagi peserta pelatihan, agar dapat banyak berinteraksi dengan instruktur agar apa yang menjadi kendala bisa diselesaikan”tutupnya.


Pada pelatihan di BLKI Bontang lokasi pelatihan dan waktu pelatihan bervariasi seperti kejuruan teknik las industri, bertempat di UPTD. BLKI Bontang, dengan waktu pelatihan selama 30 hari kerja. Kejuruan teknisi komputer khusus pelajaran teori, bertempat di UPTD. BLKI, praktek, bertempat di LPK SUVI Training, Bontang Baru, dengan waktu pelatihan selama 15 hari kerja. Kejuruan tata kecantikan, bertempat di LPK RITA, waktu pelatihan selama 15 hari kerja. Khusus untuk kedua kejuruan ini, yaitu kejuruan teknisi komputer dan kejuruan tata kecantikan, hal ini merupakan kerja sama antara UPTD BLKI dengan kedua lembaga LPK dimaksud dalam bidang pemberdayaan tenaga pengajar / instruktur.
Peserta pelatihan ini terekrut selain melalui mekanisme antar kerja yang ada pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja kota Bontang, juga melalui penyebaran pengumuman-pengumuman ke Kelurahan-Kelurahan, Lembaga-Lembaga pelatihan kerja, sehingga sejumlah 64 orang peserta, sedangkan tenaga pengajar terdiri dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Prov. Kaltim, dari dinas instansi pemerintah/swasta terkait, antara lain, PT. Indominco Mandiri dan LPK Suvi Training, LPK Rita dan lain-lain.
Penutup,Kadisnakertrans menyampaikan salah satu upaya yang harus segera kita lakukan adalah melalui sertifikasi bagi tenaga kerja lokal, dengan sertifikasi tenaga kerja dapat dilindungi kemampuannya sehingga tidak ada alasan bagi pengusaha untuk memperkerjakan tenaga kerja asing mengingat tenaga kerja  lokal tidak kalah bersaing. Untuk bisa melaksanakan sertifikasi secara merata peran BLKI sangat besar. BLK bukan saja sebagai tempat pelatihan tetapi diharapkan juga dimasa mendatang menjadi Tempat Uji Kompetensi (TUK).     
Persiapan-persiapan yang harus kita lakukan adalah agar instruktur dapat memberikan pelatihan kepada para pencari kerja dengan mengunakan kurikulum berbasis kompetensi sesuai Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), menyediakan calon-calon Asessor serta kelayakan Tempat Uji Kompetensi. Saya perkirakan bahwa BLKI Bontang ini mampu untuk menjadi Lembaga Sertfikat Profesi (LSP) First Party dimana minimal lulusan pelatihan disini diakui kompetensi baik secara teknis maupun sertifikasi. Ini merupakan program kita kedepan untuk terus membenahi keberadaan BLKI untuk menjadi suatu lembaga pelatihan yang bergengsi.TIM